JURUSAN KEPELATIHAN FIK UNY MENJADI TUAN RUMAH ASOSIASI JURUSAN KEPELATIHAN SE-INDONESIA

Diikuti 17 Program Studi Kepelatihan dari Medan, Padang, Jakarta, bandung, Bali, hingga Gorontalo, Asosiasi Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga menggelar pertemuan di Ruang Rapat Pimpinan FIK UNY (1/11). Kegiatan tersebut merupakan salah satu langkah Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) FIK UNY dalam upaya meningkatkan kualitas dan menghasilkan lulusan yang inovatif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan aktif menjalin komunikasi dan diskusi antar Prodi Kepelatihan yang ada di Indonesia. Selain sebagai sarana komunikasi dan diskusi, pertemuan juga turut mengundang Prof. Dr. Hari Setiyono, M.Pd. dari Unesa, Prof. Dr. Wawan S. Suherman, M.Ed. dan Prof. Dr. Siswantoyo, M.Kes. dari UNY sebagai pembicara dalam pertemuan tersebut. Dalam sambutannya, Dr. Imam Marsudi selaku Ketua Asosiasi Prodi Kepelatihan Se-Indonesia berterima kasih kepada Prodi Kepelatihan Olahraga FIK UNY atas dukungan dan komitmen untuk bersama-sama meningkatkan keberadaan dan kualitas kepelatihan olahraga se-Indonesia. Selain itu, Imam juga berharap agar Asosiasi Prodi Kepelatihan segera memiliki jurnal kepelatihan nasional yang terakreditasi agar para akademisi maupun praktisi kepelatihan olahraga dapat mempublikasikan karya- karyanya.

Memperhatikan bidang keahlian kepelatihan olahraga, saat ini istilah baik itu dalam kepelatihan maupun 'sport science' masih terus berkembang di dunia yang meliputi kepelatihan teknik olahraga dan kepelatihan fisik olahraga, ujar Prof. Dr. Wawan S. Suherman, M.Ed. Lebih lanjut, Prof. Dr. Hari Setiyono, M.Pd. yang merupakan mantan Deputi V Kemenpora RI dan saat ini menjabat sebagai Direktur Sport Science di Unesa Surabaya memaparkan bahwa saat ini para pelatih dari berbagai lisensi memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti dicontohkan bahwa pelatih yang merupakan mantan atlet berprestasi memiliki penguasaan skill, pengalaman di lapangan, dan pengalaman bertanding yang secara umum lebih hebat jika dibandingkan dengan pelatih yang berasal dari akademisi. “Namun, para pelatih dari latar belakang akademisi memiliki penguasaan latihan fisik, latihan psikologi, penguasaan 'sport science', dan penyusunan program latihan yang mungkin tidak dimiliki oleh para pelatih yang dulunya mantan atlet. Oleh karena itu, kepelatihan olahraga sebaiknya mampu mengkombinasikan 'strenghts and weaknesses' yang saat ini ada pada sumber daya pelatih-pelatih yang ada di Indonesia,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Hari menambahkan bahwa pelatih profesional adalah guru yang lebih baik, ahli dalam cabang olahraga yang ditekuni, dan tentu saja harus mendapatkan pengakuan dari masyarakat. (satya)